Tikus berkicau hasil rekayasa genetika
Tim peneliti dari University of
Osaka tersebut mengaku sudah melakukan persilangan gen pada tikus-tikus
beberapa generasi. Setiap tikus yang lahir diperiksa satu per satu untuk
menemukan perbedaan. "Suatu hari kami menemukan tikus yang 'bernyanyi'
seperti burung," kata Arikumi Uchimura yang memimpin studi. Tim Uchimura
mengaku terkejut. "Kami cuma mengharapkan perbedaan fisik," katanya
lewat telepon kepada Discovery News. Saat ini mereka memiliki 100 tikus yang bisa berkicau untuk penelitian lanjutan.
Video tikus itu dapat dilihat di http://youtu.be/yLu37VvCozw.
Uchimura
dan timnya berharap bisa menemukan petunjuk mengenai evolusi bahasa
manusia. Di beberapa negara, ada penelitian-penelitian yang mempelajari
suara burung, seperti burung pipit, untuk membantu menemukan asal mula
bahasa manusia. Uchimura menganggap penelitian menggunakan tikus lebih
baik daripada burung. "Tikus adalah mamalia. Struktur otaknya lebih
mirip dengan manusia," jelasnya.
Peneliti di
Osaka mencari tahu efek tikus berkicau tersebut pada tikus normal dengan
menempatkan tikus hasil rekayasa genetika itu di grup tikus normal.
Hasilnya, tikus normal yang tumbuh bersama tikus berkicau lebih sedikit
mengeluarkan suara ultrasonik. Ini bukti kalau metode komunikasi
menyebar dalam grup, seperti logat.
Tikus
berkicau bersuara lebih keras ketika diletakkan pada lingkungan baru
atau ketika tikus jantan diletakkan satu tempat dengan tikus betina.
"Mungkin ungkapan emosi atau kondisi tubuh tertentu," Uchimura menerka.
Uchimura
berharap ada evolusi tikus lewat rekayasa ini. "Saya tahu ini konyol,
tapi saya berharap membuat Mickey Mouse suatu hari nanti," Uchimura
menegaskan cita-citanya.
Sumber: Discovery News
(Alex Pangestu)






0 komentar:
Posting Komentar